|
Sketsa dianggap sebagai dasar awal bagi lukisan, ukiran, maupun
pahatan. Tetapi sering kali cetak biru pendahuluan bagi sebuah karya
yang besar juga dipandang sebagai suatu karya tersendiri. Setiap
karya seni memiliki nilainya sendiri. Semua seniman, dari masa lalu
maupun masa kini, tua maupun muda, sudah pasti pernah membuat sketsa
maupun gambar. Sketsa adalah coretan kasar yang digunakan seorang
seniman untuk menangkap objek yang mengilhaminya, tetapi sebuah
gambar sama pentingnya dan sama bernilainya dengan bentuk karya seni
lainnya.Gambar –gambar hasil coretan Affandi memiliki daya tarik tersendiri,
dan menunjukkan ekspresi maupun emosi estetik yang dimilikinya.
Sketsa –sketsa maupun gambar –gambar Affandi memiliki paradigmanya
sendiri.
Barli, seorang perupa senior, pernah mengatakan bahwa
“Nilai seni tidaklah dibatasi oleh pilihan bahannya, tetapi oleh si
senimannya sendiri.” Sebatang pensil di tangan kreatif seorang
seniman dapat merubah secarik kertas menjadi suatu karya seni yang
penting dan sarat makna. Simbol kehidupan Affandi yang berupa bentuk
tangan yang menyerupai cakar, kaki, dan matahari atau bunga matahari
sebagai kepalanya, selalu hadir dalam karya –karyanya. Matahari
sebagai sumber enerji dan kehidupan adalah unsur yang sering kali
diidentifikasikan dengan Affandi.Banyak orang mengingat Affandi sebagai sosok seorang seniman muda si
tahun 1940-an yang duduk telanjang di depan panel lukisan
mempelajari anatomi tubuh manusia dengan penuh perhatian. Sepanjang
perjalanan hidupnya, potret diri merupakan tema penting dalam
karya-karyanya. Potret diri merupakan semacam kronik yang
menceritakan tahapan kehidupan selama lima puluh tahun yang dijalani
oleh seorang Affandi, yang tidak pernah mau melukis apapun selain
apa yang dilihatnya melalui kedua matanya dalam bentuk yang paling
jujur dan apa adanya, yang kemudian dituangkannya dalam bentuk yang
baginya melebihi realisme sebuah foto.Affandi berlatih dan mengembangkan kemampuan melukisnya dalam masa
pergolakan di tahun 1940-an, ketika Indonesia sedang berjuang untuk
kemerdekaanya. Ia juga membuat poster – poster perjuangan. Selama
masa pendudukan Jepang tahun 1942 – 1945 ia menghabiskan waktunya di
Bali, dimana ia menggunakan bahan – bahan seadanya untuk tetap dapat
menuangkan emosinya dalam lukisan –lukisannya. Ia menggambar
kehidupan di desa, kemiskinan, maupun keseharian bernuansa
tradisional yang ditemuinya. Ia cenderung menggambarkan aspek-aspek
kehidupan seperti apa yang dilihatnya saat itu. “Saya tidak pernah
mencoba untuk melukis keindahan yang estetis” demikian ungkapannya
pada suatu ketika. “Saya hanya menggambarkan kemanusiaan.” Apapun
yang ditempuhnya, misi yang diemban oleh tukang gambar ini –sebuah
julukan yang disukainya dari pada “pelukis” –dapat dikatakan
mencapai kesuksesan.
Orang muda yang memutuskan berhenti dari
karirnya yang menjanjikan dan mengejar kata hatinya melalui
menggambar dan melukis, serta menerima upah dari membuat poster
serta papan iklan, akhirnya tumbuh menjadi seorang seniman yang
diakui oleh dunia.Koleksi serigrafi ini mencakup hampir 100 subjek, masing-masing
dalam edisi terbatas yang terdiri dari 100 lembar bernomor 1/100
sampai 100/100, denagn berbagai macam subjek dari jalan di India,
pasar di Yogyakarta, sebuah kafe di Paris, sampai ke desa di Spanyol.
Beberapa di antaranya berwarna, lainnya hitam-putih. Semuanya diberi
nomor dan dilengkapi segel asli dari Museum Affandi dan Dirix Art
Gallery milik Bob Urbain Dirix (pemegang Copy-right).Melalui koleksi serigrafi yang dibuat dari sketsa-sketsa Affandi,
saya ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa sebuah sketsa adalah
suatu karya seni yang utuh, bukan awal dari suatu lukisan, dan
lukisan Affandi bukanlah sketsa-sketsa yang diwarnai
Semua Serigrafi Affandi adalah buatan tangan di atas kertas khusus
import dengan berat 350gr, dibuat dari pulp yang bebas khlorine,
non-toxic, dengan silk-screen.
Ukuran kertas 50 x 35 cm dan 50 x 60 cm
Semua subjek telah diterbitkan dalam
biografi Affandi tahun 1977 dan Affandi International Dag
Hammarskjold Award tahun 1977 |