Serigraphy On Sketches  

Affandi designed a picture to made a serigraphy

Affandi's  handwriting

Rembrant's sketches

The silk screen in inspected by Specialist

  
  

GAMBAR DAN SKETSA KARYA AFFANDI DALAM SERIGRAFI

Sketsa dianggap sebagai dasar awal bagi lukisan, ukiran, maupun pahatan. Tetapi sering kali cetak biru pendahuluan bagi sebuah karya yang besar juga dipandang sebagai suatu karya tersendiri. Setiap karya seni memiliki nilainya sendiri. Semua seniman, dari masa lalu maupun masa kini, tua maupun muda, sudah pasti pernah membuat sketsa maupun gambar. Sketsa adalah coretan kasar yang digunakan seorang seniman untuk menangkap objek yang mengilhaminya, tetapi sebuah gambar sama pentingnya dan sama bernilainya dengan bentuk karya seni lainnya.Gambar –gambar hasil coretan Affandi memiliki daya tarik tersendiri, dan menunjukkan ekspresi maupun emosi estetik yang dimilikinya. Sketsa –sketsa maupun gambar –gambar Affandi memiliki paradigmanya sendiri.

Barli, seorang perupa senior, pernah mengatakan bahwa “Nilai seni tidaklah dibatasi oleh pilihan bahannya, tetapi oleh si senimannya sendiri.” Sebatang pensil di tangan kreatif seorang seniman dapat merubah secarik kertas menjadi suatu karya seni yang penting dan sarat makna. Simbol kehidupan Affandi yang berupa bentuk tangan yang menyerupai cakar, kaki, dan matahari atau bunga matahari sebagai kepalanya, selalu hadir dalam karya –karyanya. Matahari sebagai sumber enerji dan kehidupan adalah unsur yang sering kali diidentifikasikan dengan Affandi.Banyak orang mengingat Affandi sebagai sosok seorang seniman muda si tahun 1940-an yang duduk telanjang di depan panel lukisan mempelajari anatomi tubuh manusia dengan penuh perhatian. Sepanjang perjalanan hidupnya, potret diri merupakan tema penting dalam karya-karyanya. Potret diri merupakan semacam kronik yang menceritakan tahapan kehidupan selama lima puluh tahun yang dijalani oleh seorang Affandi, yang tidak pernah mau melukis apapun selain apa yang dilihatnya melalui kedua matanya dalam bentuk yang paling jujur dan apa adanya, yang kemudian dituangkannya dalam bentuk yang baginya melebihi realisme sebuah foto.Affandi berlatih dan mengembangkan kemampuan melukisnya dalam masa pergolakan di tahun 1940-an, ketika Indonesia sedang berjuang untuk kemerdekaanya. Ia juga membuat poster – poster perjuangan. Selama masa pendudukan Jepang tahun 1942 – 1945 ia menghabiskan waktunya di Bali, dimana ia menggunakan bahan – bahan seadanya untuk tetap dapat menuangkan emosinya dalam lukisan –lukisannya. Ia  menggambar kehidupan di desa, kemiskinan, maupun keseharian bernuansa tradisional yang ditemuinya. Ia cenderung menggambarkan aspek-aspek kehidupan seperti apa yang dilihatnya saat itu. “Saya tidak pernah mencoba untuk melukis keindahan yang estetis” demikian ungkapannya pada suatu ketika. “Saya hanya menggambarkan kemanusiaan.” Apapun yang ditempuhnya, misi yang diemban oleh tukang gambar ini –sebuah julukan yang disukainya dari pada “pelukis” –dapat dikatakan mencapai kesuksesan.

Orang muda yang memutuskan berhenti dari karirnya yang menjanjikan dan mengejar kata hatinya melalui menggambar dan melukis, serta menerima upah dari membuat poster serta papan iklan, akhirnya tumbuh menjadi seorang seniman yang diakui oleh dunia.Koleksi serigrafi ini mencakup hampir 100 subjek, masing-masing dalam edisi terbatas yang terdiri dari 100 lembar bernomor 1/100 sampai 100/100, denagn berbagai macam subjek dari jalan di India, pasar di Yogyakarta, sebuah kafe di Paris, sampai ke desa di Spanyol. Beberapa di antaranya berwarna, lainnya hitam-putih. Semuanya diberi nomor dan dilengkapi segel asli dari Museum Affandi dan Dirix Art Gallery milik Bob Urbain Dirix (pemegang Copy-right).Melalui koleksi serigrafi yang dibuat dari sketsa-sketsa Affandi, saya ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa sebuah sketsa adalah suatu karya seni yang utuh, bukan awal dari suatu lukisan, dan lukisan Affandi bukanlah sketsa-sketsa yang diwarnai  

Semua Serigrafi Affandi adalah buatan tangan di atas kertas khusus import dengan berat 350gr, dibuat dari pulp yang bebas khlorine, non-toxic, dengan silk-screen.

Ukuran kertas 50 x 35 cm dan 50 x 60 cm

Semua subjek telah diterbitkan dalam biografi Affandi tahun 1977 dan  Affandi International Dag Hammarskjold Award tahun 1977

  
  
<< Back | Next >>