Helfi Dirix (cucu Affandi)  

Affandi and Helfi in Venisia,Italy

Affandi in Paris place de tertre

Helfi,Affandi and Affandi's painting'Eiffel'.Affandi Refused to sell his painting 1 million dollar America,he prefer to bring his works back home for Indonesia.

Frans Masserel's widow,owner of the  Masserel Art Center,Affandi and Helfi

Affandi,Maryati and Kartika visiting the workshop of Masereel Art Center

Maryati's Painting of Masereel Art Center

  

Pada bulan November 1977 Affandi dan Maryati mengunjungi Art Center.Arsitektur bangunan Art Center tersebut sangat unik. Bangunan induk yang berbentuk kerucut dikelilingi oleh bungalo-bungalo berbentuk kerucut kecil yang terbuat dari kayu.Bangunan induk terdiri atas studio,kantor,perpustakaan dan ruang seminar,sedangkan bungalo kecil merupakan tempat tinggal para seniman dan keluarganya dengan fasilitas dua kamar tidur,dapur dan ruang duduk.Suasana alam pedesaan membuat Affandi dan Maryati langsung betah dan tinggal disana.Hari-hari pertama Affandi,dilalui dengan pengenalan lingkungan,materi dan perancangan kerja.Direktris Art Center tersebut adalah janda Frans Masereel,yang sangat senang dengan keinginan Affandi untuk mempelajari grafis.Bahkan Affandi mendapat prioritas untuk tinggal selama beliau suka.Affandi mulai mempelajari teknik grafis dengan bimbingan salah satu staff yang berpengalaman.Affandi betul-betul menikmati pelajaranya,diusia yang ke-70 beliau masih ingin belajar banyak,karena beliau merasa bahwa teknik grafis yang sekarang dipelajarinya adalah salah satu pelengkap cita-citanya.Bila dia tiada,karyanya tidak harus ikut mati.Ia ingin meninggalkan karya-karyanya untuk anak cucunya dan generasi penerus.

Waktu kosongnya hari sore banyak digunakanya untuk berdiskusi dengan seniman-seniman muda yang lebih dulu mempelajari bahwa seni grafis adalah seni masa datang.Affandi ikut terpacu untuk berbuat banyak,para Staff Art Center betul-betul menemani dan memberi pengarahan teknis secara detil.Diwaktu senggangnya,dengan didampingi Maryati,Affandi mencari motif disekeliling tempat tinggal barunya yang kemudian dituangkanya diatas kertas buram.Affandi mencoba mencoret di kertas buram dan diulang berkali-kali,bila dirasakan belum pas akan diulanginya sampai ia merasa puas,yang kemudian akan dituangkanya diatas media yang diinginkan.Keesokan harinya coretan-coretan tersebut dicoba dituangkan diatas litho yang berukurn kecil dengan judul 'Pegunungan'.Affandi sudah terbiasa melukis diatas kanvas berukuran besar dengan objek yang dilihatnya secara langsung hingga menyatu dengan emosinya,kemudian barulah objek itu dituangkan dalam kanvas.Sementar si Art Center ia menghadapi sebuah batu (litho) berukuran terbatas dengan objek lukisan hanya didalam anganya,dan emosi yang tidak bisa dituangkan sepenuhnya keatas batu tersebut.Affandi tidak merasakan kepuasan batin dalam pembuatan karya grafis ini,karena ungkapan ekspresi dan emosinya tidak dapat sepenuhnya tertuang.Saya banyak mendorong akie untuk melihat masa depan sehubungan dengan pelesatian karya-karyanya.Mungkin pada saat itu akie merasa tertekan oleh dorongan-dorongan saya,karena pada dasarnya akie adalah orang yang tidak bisa dipaksa dalam hal melukis.Bila kita lihat perkembangan sejarah seni rupa di dunia,akan dijumpai bahwa penemuan realisme,impresionisme,surealisme dan lain-lain bukanlah karena dituntut oleh keinginan para pengamat,akan tetapi lahir karena suatu dorongan dari kemurnian dan kejujuran seniman itu sendiri.Sementara itu saya terus mendorong untuk membuka wawasan akie bahwa dimasa yang akan datang,karya grafis akan diakui dan sejajar dengan karya seni lainya.

Memang berat bagi aki saat itu untuk menumpahkan emosi dan mencari motif,padahal dia terbiasa melukis di alam terbuka dengan objek yang ada dihadapanya.Sementara saat itu dia dipaksa untuk berkarya dan hanya tersedia sebuah cermin,dia sendiri dan cucunya.Akhirnya tertuanglah emosinya dengan halus dan terkontrol dalam 'AKU DAN CUCUKU"(1977) yang dibuatnya diatas sebuah batu yang kemudian dicetak sebanyak 75 ekslempar dan ditandatangai beliau sendiri.Gejolak emosinya tidak tertahankan,walaupun diatas batu dia ingin menumpahkan emosinya.Lalu ia mencari motif untuk menumpahkan seluruh gejolak hatinya.Seolah-olah ingin menyatakan bahwa ia adalah pelukis bebas,tidak dapat didikte.Affandi menghasilkan 'Self Potrait and Maskers'  untuk lithography garapan kedua.Nyata betul perbedaan antara litho pertama dan kedua.Pada karya pertama tampak garis-garis halus penuh kontrol,seolah tanpa emosi,sedangkan dalam litho yang kedua luapan emosinya tak bisa dibendung lagi,yang ditunjukkanya dalam garis yang tidak beraturan.Memang grafis hanya sebagian kecil dari karier Affandi sebagai pelukis yang dijalani sepanjang hayatnya.Affandi telah berusaha menerjuni duni lithografi,tetapi beliau belum puas.Beliau masih berusaha untuk menambah pengetahuanya dengan memnuat etsa,'Aku dan Istriku','Balinese Boat','Balinese Dancer','Dog','My House','Potrait With the Poem of Chairil Anwar','Self Potrait'(2),'Life Symbol'(2).Selain etsa,beliau juga membuat serangkaian serigrafi yang terdiri dari 4 warna,diantaranya 'Bali Boat','Balinese Girl','Self Potrait',dan 'life Smbol'.Dipesta ulang tahun Affandi yang ke-70 Rendra mengatakan 'Affandi bagi saya sudah mati'.Memang ditahun itu banyak motif lukisannya yang berulang.Sejak itulah saya ikut terpacu,akie tidak harus berhenti,dia harus terus berkatya dan maju.Affandi termasuk diantara pelukis dunia yang juga terjun digrafis,misalnya Salvador Dali,Picasso,Paul Cesanne dan lain-lain. Dan selama hampir 20 tahun sejak Affandi memelajari seni grafis di Art Center,Belgia,karya-karya grafisnya telah banyak dipamerkan diberbagai tempat,dan juga dimiliki oleh berbagai kalangan masyarakat.Bahkan karya-karya grafis Affandi tersebut pernah dipamerkan secara khusus dan dijadika sebagai objek studi banding oleh para seniman  muda grafis.Ternyata karya grafis Affandi mampu memberi sumbangan bagi perkembangan dunia seni,disamping tujuanya'Seni Untuk Rakyat' telah terealisir pula melalui karya-karta grafis tersebut.Adalah harapan kami sebagai penerus Affandi untuk dapat lebih menyebar luaskan karya-karya grafisnya diberbagai daerah dan lapisan masyarakat.Karya grafis Affandi memang belum banyak dipublikasikan,namun karya-karya ini telah menjadi koleksi pribadi Dr.Dirix sejak 30 tahun yang lalu.

                                                                                               Helfi Dirix(Cucu Affandi)

  
<< Back | Next >>