|
Pada bulan November 1977 Affandi dan Maryati
mengunjungi Art Center.Arsitektur bangunan Art Center tersebut sangat
unik. Bangunan induk yang berbentuk kerucut dikelilingi oleh
bungalo-bungalo berbentuk kerucut kecil yang terbuat dari
kayu.Bangunan induk terdiri atas studio,kantor,perpustakaan dan ruang
seminar,sedangkan bungalo kecil merupakan tempat tinggal para seniman
dan keluarganya dengan fasilitas dua kamar tidur,dapur dan ruang
duduk.Suasana alam pedesaan membuat Affandi dan Maryati langsung betah
dan tinggal disana.Hari-hari
pertama Affandi,dilalui dengan pengenalan lingkungan,materi dan
perancangan kerja.Direktris Art Center tersebut adalah janda Frans
Masereel,yang sangat senang dengan keinginan Affandi untuk mempelajari
grafis.Bahkan Affandi mendapat prioritas untuk tinggal selama beliau
suka.Affandi mulai mempelajari teknik grafis dengan bimbingan salah
satu staff yang berpengalaman.Affandi betul-betul menikmati
pelajaranya,diusia yang ke-70 beliau masih ingin belajar banyak,karena
beliau merasa bahwa teknik grafis yang sekarang dipelajarinya adalah
salah satu pelengkap cita-citanya.Bila dia tiada,karyanya tidak harus
ikut mati.Ia ingin meninggalkan karya-karyanya untuk anak cucunya dan
generasi penerus.
Waktu kosongnya hari sore banyak digunakanya untuk
berdiskusi dengan seniman-seniman muda yang lebih dulu mempelajari
bahwa seni grafis adalah seni masa datang.Affandi ikut terpacu untuk
berbuat banyak,para Staff Art Center betul-betul menemani dan memberi
pengarahan teknis secara detil.Diwaktu senggangnya,dengan didampingi
Maryati,Affandi mencari motif disekeliling tempat tinggal barunya yang
kemudian dituangkanya diatas kertas buram.Affandi mencoba mencoret di
kertas buram dan diulang berkali-kali,bila dirasakan belum pas akan
diulanginya sampai ia merasa puas,yang kemudian akan dituangkanya
diatas media yang diinginkan.Keesokan harinya coretan-coretan tersebut
dicoba dituangkan diatas litho yang berukurn kecil dengan judul 'Pegunungan'.Affandi sudah terbiasa melukis diatas kanvas berukuran
besar dengan objek yang dilihatnya secara langsung hingga menyatu
dengan emosinya,kemudian barulah objek itu dituangkan dalam
kanvas.Sementar si Art Center ia menghadapi sebuah batu (litho)
berukuran terbatas dengan objek lukisan hanya didalam anganya,dan
emosi yang tidak bisa dituangkan sepenuhnya keatas batu
tersebut.Affandi tidak merasakan kepuasan batin dalam pembuatan karya
grafis ini,karena ungkapan ekspresi dan emosinya tidak dapat
sepenuhnya tertuang.Saya banyak mendorong akie untuk melihat masa
depan sehubungan dengan pelesatian karya-karyanya.Mungkin pada saat
itu akie merasa tertekan oleh dorongan-dorongan saya,karena pada
dasarnya akie adalah orang yang tidak bisa dipaksa dalam hal
melukis.Bila kita lihat perkembangan sejarah seni rupa di dunia,akan
dijumpai bahwa penemuan realisme,impresionisme,surealisme dan
lain-lain bukanlah karena dituntut oleh keinginan para pengamat,akan
tetapi lahir karena suatu dorongan dari kemurnian dan kejujuran
seniman itu sendiri.Sementara itu saya terus mendorong untuk membuka
wawasan akie bahwa dimasa yang akan datang,karya grafis akan diakui
dan sejajar dengan karya seni lainya.
Memang berat bagi aki saat itu untuk menumpahkan emosi
dan mencari motif,padahal dia terbiasa melukis di alam terbuka dengan
objek yang ada dihadapanya.Sementara saat itu dia dipaksa untuk
berkarya dan hanya tersedia sebuah cermin,dia sendiri dan
cucunya.Akhirnya tertuanglah emosinya dengan halus dan terkontrol
dalam 'AKU DAN CUCUKU"(1977) yang dibuatnya diatas sebuah batu yang
kemudian dicetak sebanyak 75 ekslempar dan ditandatangai beliau
sendiri.Gejolak emosinya tidak tertahankan,walaupun diatas batu dia
ingin menumpahkan emosinya.Lalu ia mencari motif untuk menumpahkan
seluruh gejolak hatinya.Seolah-olah ingin menyatakan bahwa ia adalah
pelukis bebas,tidak dapat didikte.Affandi menghasilkan 'Self Potrait
and Maskers' untuk lithography garapan kedua.Nyata betul
perbedaan antara litho pertama dan kedua.Pada karya pertama tampak
garis-garis halus penuh kontrol,seolah tanpa emosi,sedangkan dalam
litho yang kedua luapan emosinya tak bisa dibendung lagi,yang
ditunjukkanya dalam garis yang tidak beraturan.Memang grafis hanya sebagian kecil dari karier Affandi
sebagai pelukis yang dijalani sepanjang hayatnya.Affandi telah
berusaha menerjuni duni lithografi,tetapi beliau belum puas.Beliau
masih berusaha untuk menambah pengetahuanya dengan memnuat etsa,'Aku
dan Istriku','Balinese Boat','Balinese Dancer','Dog','My
House','Potrait With the Poem of Chairil Anwar','Self Potrait'(2),'Life
Symbol'(2).Selain etsa,beliau juga membuat serangkaian serigrafi yang
terdiri dari 4 warna,diantaranya 'Bali Boat','Balinese Girl','Self
Potrait',dan 'life Smbol'.Dipesta ulang tahun Affandi yang ke-70 Rendra mengatakan 'Affandi bagi
saya sudah mati'.Memang ditahun itu banyak motif lukisannya yang
berulang.Sejak itulah saya ikut terpacu,akie tidak harus berhenti,dia
harus terus berkatya dan maju.Affandi termasuk diantara pelukis dunia
yang juga terjun digrafis,misalnya Salvador Dali,Picasso,Paul Cesanne
dan lain-lain. Dan selama hampir 20 tahun sejak Affandi memelajari
seni grafis di Art Center,Belgia,karya-karya grafisnya telah banyak
dipamerkan diberbagai tempat,dan juga dimiliki oleh berbagai kalangan
masyarakat.Bahkan karya-karya grafis Affandi tersebut pernah
dipamerkan secara khusus dan dijadika sebagai objek studi banding oleh
para seniman muda grafis.Ternyata karya grafis Affandi mampu
memberi sumbangan bagi perkembangan dunia seni,disamping tujuanya'Seni
Untuk Rakyat' telah terealisir pula melalui karya-karta grafis
tersebut.Adalah harapan kami sebagai penerus Affandi untuk dapat lebih
menyebar luaskan karya-karya grafisnya diberbagai daerah dan lapisan
masyarakat.Karya grafis Affandi memang belum banyak
dipublikasikan,namun karya-karya ini telah menjadi koleksi pribadi
Dr.Dirix sejak 30 tahun yang lalu.
Helfi Dirix(Cucu Affandi) |