Helfi Dirix (cucu Affandi)  

Helfi and Affandi's statue

Helfi with Affandi in the background

Helfi with Affandi's painting my first grandchild

Helfi,Maryati,Affandi Arrived in Brussels

Affandi and Helfi in Paris

Maryati,Affandi,Helfi in Masserel Art Center

  
'Akie' Belajar Grafis di Frans Masereel-Belgia

Banyak seniman besar di dunia memiliki hasrat untuk "menggandakan" hasil-hasil karyanya.Dimasa lalu,tekhnik grafis belum dikenal dan alat kerja belum secanggih sekarang,sehingga untuk dapat menggandakan hasil karyanya,para seniman lukis melakukan upaya meniru ulang suatu karya mereka diatas kanvas.Pada perkembangan selanjutnya dikenal teknik reproduksi yang berupa lithografi,etsa dan serigrafi.Dengan berjalanya waktu,karya-karya grafis tersebut mendapat pengakuan sebagai suatu karya seni.

TOULOUSELOUTREC,misalnya lebih dikenal dalam kaitanya dengan poster-poster yang dihasilkanya dari pada karya-karya cat minyaknya.Sebagai produksi tetap dalam edisi yang terbatas,karya grafis asli bukanlah satu-satunya contoh yang terbaik dari kerja seniman,namin seringkali dianggap sebagai yang paling mewakili,mengingat hal ini mengesankan suatu'kemajuan' atau 'perkembangan' seniman yang bersangkutan dalam dunia senu lukisnya.Grafis biasanya dilakukan dibawah pengawasan seorang seniman,atau setidak-tidaknya dengan izin seniman yang bersangkutan."Penggandaan" tersebut dapat berupa litografi,linografi,atau serigrafi.

Dalam tahu-tahun terakhir ini,terdapat suatu perkembangan dalam bidang grafis,dengan meningkatnya jumlah orang yang telah memperoleh informasi dan menjadi sadar akan nilai seni grafis.Penggandaan ini membuka peluang bagi seseorang yang mengerti seni untuk mengoleksi dan memiliki hasil karya seniman yang mereka kagumi dengan harga yang relatif terjangkau.Sebagai seorang pelukis otodidak,pada waktu itu Affandi belum memikirkan bagaimana caranya agar karya-karyanya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat,karena tujuan seni Affandi pada dasarnya adalah'Seni Untuk Rakyat'.

Pada waktu itu dengan pengetahuan saya yang terbatas,saya mencoba untuk menjelaskan kepada akie(kakek) bahwa meskipun lukisan-lukisan beliau umumnya bertema lingkungan hidup dan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat,namun yang dapat memilikinya hanyalah kalangan terbatas saja.Dengan demikian seandainya akie mau membuat penggandaan beberapa karyanya,hal itu justru akan memungkinkan beberapa kalangan dapat memiliki hasil karya Affandi,yang dengan sendirinya selaras dengan misinya mengenai seni untuk rakyat.Sebagai cucu Affandi,saya ingin menjaga kelangsungan karya dan nama beliau,agar dapat dimiliki dan dikenang oleh semua lapisan masyarakat.Ketika saya berada di Eropa pada tahun 1973-1985,saya banyak mengamati senu lukis dan kemajuan teknologinya.Dari berbagai kunjungan ke berbagai museum dan galeri seni lukis,timbul keinginan untuk memiliki dan mengoleksi lukisan hasil karya para seniman luar maupun dalam negri.

Ketika pada tahun 1977 Affandi mendapat gelar 'Grand Maestro' dari Organisasi Perdamaian Internasional Yayasan Dag Hammarskjold di Florence,Itali,beliau bersama istrinya,Maryati singgah ke Belgia,tempat tinggal saya bersama suami.Kesempatan tersebut saya gunakan untuk mengulang kembali cerita tetntang Art Center yang memberikan pelajaran tentang grafis.Pusat seni tersebut dinamakan Masserel Centrum,diambil dari nama pendirinya,Frans Masereel,seorang seniman grafis dari Perancis yang banyak menghabiskan waktunya di Belgia.

Pusat seni itu berada dibawah pengawasan Direktorat Kebudayaan Belgia.Para seniman yang ingin belajar tentang grafis boleh tonggal secara gratis disana selama satu bulan.Hasil karya yang diperoleh selama pelatihan itu 2 ekslempar akan dikoleksi oleh Art Center dan dipamerkan.Selain itu secara rutin diadakan juga diskusi tentang grafis dan perkembangan seni dimasa mendatang.Art Center tersebut terletak diperbatasan antara Belgia dan Belanda disebuah perkampungan yang masyarakatnya berbahasa Belanda.Pada bulan November 1977 Affandi dan Maryati mengunjungi Art Center.

Arsitektur bangunan Art Center tersebut sangat unik.Bangunan induk yang berbentuk kerucut dikelilingi oleh bungalo-bungalo berbentuk kerucut kecil yang terbuat dari kayu.Bangunan induk terdiri atas studio,kantor,perpustakaan dan ruang seminar,sedangkan bungalo kecil merupakan tempat tinggal para seniman dan keluarganya dengan fasilitas dua kamar tidur,dapur dan ruang duduk.Suasana alam pedesaan membuat Affandi dan Maryati langsung betah dan tinggal disana.Hari-hari pertama Affandi,dilalui dengan pengenalan lingkungan,materi dan perancangan kerja.Direktris Art Center tersebut adalah janda Frans Masereel,yang sangat senang dengan keinginan Affandi untuk mempelajari grafis.

  
<< Back | Next >>